
Raudhah bukan sekadar hamparan karpet hijau sekitar 15 meter persegi di Masjid Nabawi. Ia adalah hamparan ruang kecil yang bergayut ke langit, tempat waktu seolah berhenti sejenak dan cinta menemukan wujudnya yang sempurna sendiri. Diantara mimbar dan makam Nabi Muhammad saw, Raudhah berdenyut seperti jantung sejarah. Perlahan dan terjal, namun menghidupi seluruh jasad dan ruh umat Islam di seluruh dunia. Di tempat itulah seorang lelaki padang pasir, Muhammad saw pernah berdiri dengan tubuh letih dan lapar, namun jiwanya tegak. Tempat itulah yang menjadi saksi, bagaimana Muhammad saw menumpahkan air mata, agar umatnya tak lagi dahaga iman.
Di sanalah kening kekasih Allah swt tersebut menyentuh bumi, menumpahkan seluruh beban umatnya dalam doa. Cintanya tidak selalu lantang seperti panasnya padang pasir, tetapi begitu dalam dan setia. Ia mencintai umatnya jauh sebelum mereka lahir, menyebut umatnya dalam munajat-munajat panjang di sepertiga malam, menangis bukan untuk dirinya, melainkan untuk seluruh manusia yang kelak akan memanggil namanya dengan nyanyian kerinduan di Raudhah. Di situlah, ada sebuah ruang yang dahulu berdinding tanah dan beratap sederhana. Di situlah Aisyah RA hidup, mencintai, belajar, dan menyaksikan kenabian dari jarak paling dekat, sedekat leher dan urat nadi manusia. Cintanya kepada Muhammad bukan cinta yang dipaksakan, melainkan cinta yang berpikir, bertanya, dan terus tumbuh. Ia melihat Nabi bukan hanya sebagai Nabi dan Rasul yang agung, tetapi sebagai suami yang lembut, mendengarkan, penuh senyum, yang tetap hadir sebagai manusia. Dari Aisyah, cinta menjadi ilmu. Dari ingatannya, umat Islam mengenal Muhammad saw sebagai cahaya yang menyinari seluruh dunia.
Raudhah menjadi saksi cinta yang tidak selalu terucap, namun terus tumbuh. Di sanalah langkah-langkah Nabi bergema, dan di sanalah kenangan Aisyah membeku, menyatu dengan doa-doa orang yang datang berabad-abad kemudian. Umat Islam hadir dengan mata basah dan dada bergetar, membawa cinta yang diwariskan tanpa pernah bertatap muka. Mereka datang dari negeri-negeri jauh, dari kehidupan yang beragam, namun tunduk dalam satu rasa: rindu kepada Nabi yang tak pernah mereka temui, tetapi begitu dekat di hati. Di Raudhah, cinta tidak bersuara keras. Ia hadir dalam sujud yang lama, dalam doa yang tercekat, dalam air mata yang jatuh diam-diam. Cinta antara Muhammad saw dan Aisyah RA menjelma menjadi cinta umat, cinta yang ingin meneladani, bukan sekadar mengagumi; cinta yang ingin setia pada akhlak, bukan hanya pada kisah. Raudhah mengajarkan bahwa cinta sejati tidak selalu membutuhkan ruang luas. Ia cukup hidup di tempat kecil yang dipenuhi keikhlasan. Dari sanalah, cinta Nabi, cinta Aisyah, dan cinta umat Islam terus bersemi—melintasi zaman, melampaui jarak, dan tetap hidup hingga hari ini.
Penulis : Prof. Dr. Hadi Pajarianto, M.Pd.I
Editor : Aliyah Astari, S.H.Int., M.Hub.Int